Sabtu, 21 Januari 2012

SIPAKATAU

Posted by KERAJAAN MAKASSAR 09.26, under | No comments

Sesungguhnya budaya Makassar mengandung esensi nilai luhur yang universal, namun kurang teraktualisasi secara sadar dan dihayati dalam kehidupan sehari-hari. Kalau kita menelusuri secara mendalam, dapat ditemukan bahwa hakikat inti kebudayaan Makassar itu sebenarnya adalah bertitik sentral pada konsepsi mengenai “tau” (manusia), yang manusia dalam konteks ini, dalam pergaulan sosial, amat dijunjung tinggi keberadaannya.
Dari konsep “tau” inilah sebagai esensi pokok yang mendasari pandangan hidup orang Makassar, yang melahirkan penghargaan atas sesama manusia. Bentuk penghargaan itu dimanifestasikan melalui sikap budaya “sipakatau”. Artinya, saling memahami dan menghargai secara manusiawi.
Dengan pendekatan sipakatau, maka kehidupan orang Makassar dapat mencapaui keharmonisan, dan memungkinkan segala kegiatan kemasyarakatan berjalan dengan sewajarnya sesuai hakikat martabat manusia. Seluruh perbedaan derajat sosial tercairkan, turunan bangsawan dan rakyat biasa, dan sebagainya. Yang dinilai atas diri seseorang adalah kepribadiannya yang dilandasi sifat budaya manusiawinya.
Sikap Budaya Sipakatau dalam kehidupan orang Makassar dijabarkan ke dalam konsepsi Sirik na Pacce. Dengan menegakkan prinsip Sirik na Pacce secara positif, berarti seseorang telah meneapkan sikap Sipakatau dalam kehidupan pergaulan kemasyarakatan. Hanya dalam lingkunagn orang-orang yang menghayati dan mampu mengamalkan sikap hidup Sipakatau yang dapat secara terbuka saling menerima hubungan kekerabatan dan kekeluargaan.
Sipakatau dalam kegiatan ekonomi, sangat mencela adanya kegiatan yang selalu hendak “annunggalengi” (egois), atau memonopoli lapangan hidup yang terbuka secara kodrati bagi setiap manusia. Azas Sipakatau akan menciptakan iklim yang terbuka untuk saling “sikatallassi” (saling menghidupi), tolong-menolong, dan bekerjasama membangun kehidupan ekonomi masyarakat secara adil dan merata.
Demikianlah Sipakatau menjadi nilai etika pergaualan orang Makassar yang patut diaktualisasikan di segala sektor kehidupan. Di tengah pengaruh budaya asing cenderung menenggelamkan penghargaan atas sesama manusia, maka sikap Sipakatau merupakan suatu kendali moral yang harus senantiasa menjadi landasan. Hal itu meningkatkan budaya Sipakatau juga merupakan yuntunan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai dengan azas Pancasila, terutama Sila Ketiga yaitu Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.

PACCE

Posted by KERAJAAN MAKASSAR 09.21, under | No comments

Pacce secara harfiah bermakna perasaan pedih dan perih yang dirasakan meresap dalam kalbu seseorang karena melihat penderitaan orang lain. Pacce ini berfungsi sebagai alat penggalang persatuan, solidaritas, kebersamaan, rasa kemanusiaan, dan memberi motivasi pula untuk berusaha, sekalipun dalam keadaan yang sangat pelik dan  berbahaya.
Dari pengertian tersebut, maka jelasnya bahwa pacce itu dapat memupuk rasa persatuan dan kesatuan bangsa, membina solidaritas antara manusia agar mau membantu seseorang yang mengalami kesulitan. Sebagai contoh, seseorang mengalami musibah, jelas masyarakat lainnya turut merasakan penderitaan yang dialami rekannya itu. Segera pada saat itu pula mengambil tindakan untuk membantunya, pakah berupa materi atau nonmateri.
Antara sirik dan pacce ini keduanya saling mendukung dalam meningkatkan harkat dan martabat manusia, namun kadang-kadang salah satu dari kedua falsafah hidup tersebut tidak ada, martabat manusia tetap akan terjaga, tapi kalau kedua-duanya tidak ada, yang banyak adalah kebinatangan. Ungkapan orang Makassar berbubyi “Ikambe Mangkasaraka  punna tena sirik nu, pacce seng nipak bula sibatangngang (bagi kita orang Makassar kalau bukan sirik, paccelah yang membuat kita bersatu).

SIRI'

Posted by KERAJAAN MAKASSAR 09.17, under | No comments

Berbagai pandangan para ahli hukum adat tentang pengertian sirik. Moh. Natsir Said mengatakan bahwa sirik adalah suatu perasaan malu (krengking/belediging) yang dilanggar norma adatnya. Menurut Cassuto, salah seorang ahli hukum adat yang berkebangsaan Jepang yang pernah menliti masalah sirik di Sulawesi Selatan  berpendapat : Sirik merupakan pembalasan berupa kewajiban moral untuk membunuh pihak yang melanggar adatnya.
Kodak VIII Sul-Selra bekerjasama dengan Universitas Hasanuddin mengadakan seminar masalah sirik tanggal 11-13 Juli 1977 telah merumuskan : Sirik adalah suatu sistem nilai Sosial-kltural dan kepribadian yang merupakan pranata pertahanan harga diri dan martabat manusia sebagai individu dan anggota masyarakat.
Kalau kita kaji secara mendalam dapat ditemukan bahwa sirik dapat dikategorikan dalam empat golongan yakni : pertama, Sirik dalam hal pelanggaran kesusilaan, kedua sirik yang berakibat kriminal, ketiga sirik yang dapat meningkatkan motivasi seseorang untuk bekerja dan keempat sirik yang berarti malu-malu (sirik-sirik). Semua jenis sirik tersebut dapat diartikan sebagai harkat, martabat, dan harga diri manusia.
Bentuk sirik yang pertama adalah sirik dalam hal pelanggaran kesusilaan. Berbagai macam pelanggaran kesusilaan yang dapat dikategorikan sebagai sirik seperti kawin lari (dilariang, nilariang, dan erang kale), perzinahan, perkosaan, incest (perbuatan sumbang/salimarak)/ yakni perbuatan seks yang dilarang karena adanya hubungan keluarga yang terlalu dekat, misalnya perkawinan antara ayah dan putrinya, ibu dengan putranya dsb.
Dari berbagai perbuatan a-susila itu, maka incestlah/salimarak merupakan pelanggaran terberat. Sebab susah untuk diselesaikan karena menyangkut hubungan keluarga yang terlalu dekat, semuanya serba salah. Kalau perkawinan terus dilangsungkan, sengat dikutuk oleh masyarakat, dan kalau perkawinan tidak dilangsungkan, status anak yang lahir nanti bagaimana ? Perbuatan salimarak ini dulu dapat dikenakan hukuman “niladung” yakni kedua pelaku dimasukkan dalam karung kemudian ditenggelamkan kelaut atau ke dalam air sampai mati. Lain halnya perbuatan asusila lainnya seperti perzinahan, perkosaan, dan kawin lari Penyelesaiannya dapat dilakukan melalui perkawinan secara adat kapan saja, bilamana kedua belah pihak ada persetujuan atua mengadakan upacara abajik (damai). Sesudah itu tidak ada lagi masalah.
Sejak dulu hingga sekarang, perbuatan asusila ini sering kali dilakukan oleh orang-orang tertentu, oleh suku Makassar perbutan tersebut dianggapnya melanggar sirik. Bila perbuatan a-susila terjadi, pihak yang dipermalukan (biasanya dari pihak perempuan yang disebut Tumasirik) berhak untuk mengambil tindakan balasan pada orang-orang yang melanggar siriknya yang disebut “Tumannyala”.
Jadi, kalau ada anggapan orang luar yang mengatakan sirik itu “kejam” atau “jahat” memang demikian, akan tetapi dibalik kekejaman itu tersimpan makna hidup yang harus dimiliki oleh manusia untuk menjaga harga dirinya. Lebih kejam atau lebih jahat, bilamana anak yang lahir tanpa ayah, anak haram, kemana anak ini harus memanggil ayah ? Apalagi kalau perbuatan a-susila membudaya di negara kita, jelas harkat dan martabat manusia lebih rendah dari pada binatang. Dekatakan memang nalurinya, sedangkan manusia punya otak, pikiran untuk membedakan mana yang baik dan mana yang salah. Alangkah jahatnya bila perbuatan free seks atau “kupul kebo”, membudaya di negara kita, berapa banyak wanita yang harus jadi korban kebuasan seksual ? Justru kehadiran sirik di tengah masyarakat dapat dijadikan sebagai penangkal kebebasan seks (free seks)
Jenis sirik yang kedua adalah sirik yang dapat memberikan motivasi untuk meraih sukses. Misalnya, kalau kita melihat orang lain sukses, kenapa kita tidak? Contoh yang paling konkret, suku Makassar biasanya banyak merantau ke daerah mana saja. Sesampai di daerah tersebut mereka bekerja keras untuk meraih kesuksesan. Kenapa mereka bekerja keras ? Karena mereka nantinya malu bilamana pulang kampung tanpa membawa hasil.
Salah satu syair lagu Makassar yang berbunyi :          
“Takunjungngak bangung turu, nakugincirik gulingku, kualleanna, tallanga natoalia. (Tidak begitu saja ikut angin burutan, dan kemudian saya putar kemudika, lebih baik tenggelam, dari pada balik haluan).
“Bangung turuk, adalah istilah pelayaran yang berarti angin buritan.
Demikian pula dalam ungkapan Makassar berbunyi :
“Bajikanngangi mateya ri pakrasanganna taua nakanre gallang-gallang na ammotere natena wassekna” (lebih mati di negeri orang dimakan cacing tanah, daripada pulang tanpa hasil, akibatnya akan dicemoohkan oleh masyarakat di daerahnya, tapi kalau ia menjulang sukses, maka ia dapat dijadikan sebagai teladan bagi masyarakat lainnya.
Salah satu contoh orang Makassar yang merantau karena sirik yakni Karaeng Aji di Pahang. Dia merantau pada abad XVIII karena sirik. Di Pahang, ia berhasil menjadi Syahbandar Kesultanan. Kemudian, turunannya bernama Tun Abdul Razak berhasil menjadi Perdana Menteri Malaysia.
Jenis sirik yang ketiga adalah sirik yang bisa berakibat kriminal. Sirik seperti ini misalnya menempeleng seseorang di depan orang banyak, menghina dengan kata-kata tidak enak didengar dan sebagainya tamparan itu dibalasnya dengan tamparan pula sehingga terjadi perkelahian yang bisa berakibat pembunuhan.
Ada anggapan orang luar bahwa orang Makassar itu “Pabbambangangi na tolo” (pemarah lagi bodoh). Anggapan seperti ini bagi orang Makassar tidaklah sepenuhnya benar, karena tindakan balasan yang dilakukannya bukan karena mereka bodoh, akan tetapi semata-mata ingin membela harga dirinya. Adalah lebih bodoh bila dipermukaan di muka umum lantas diam saja tanpa ada tindakan apa-apa. Yang jelas, memang marah karena harga dirinya direndahkan di depan umum, tapi bukan brarti bodoh.
Jika orang Makassar merasa harga dirinya direndajkan, jelas mereka akan mengambil tindakan pada orang yang mempermalukan itu. Ada ungkapan orang Makassar “Eja tonpi seng na doang” (nanti setelah merah, beru terbukti udang) maksudnya kalau siriknya orang Makassar dilanggar, tindakan untuk menegakkan sirik itu tidaklah dipikirkan akibatnya dan nati selesai baru diperhitungkan. Ungkapan inilah yang mendorong orang Makassar untuk menjaga kehormatan diri.
Jenis sirik yang keempat adalah sirik yang berarti malu-malu. Sirik semacam ini sebenarnya dapat berakibat ngatifnya bagi seseorang, tapi ada juga positifnya. Misalnya yang ada akibat negatifnya ialah bila seseorang disuruh tampil di depan umum untuk jadi protokol, tetapi tidak mau dengan alasan sirik-sirik. Ini dapat berakibat menhalangi bakat seseorang untuk berani tampil di depan umum. Sebaliknya akibat positif dari sirik-sirik ini, misalnya ada seseorang disuruh untuk mencuri ayam, lalu dia tidak mau dengan alasan sirik-sirik bilamana ketahuan oleh tetangganya.
Mengapa sirik bagi suku Makassar perlu ditgakkan, jawabnya untuk meningkatkan harkat dan martabatnya sebagai manusia. Yang menjadi masalah dalam kehidupan manusia ialah adanya dua versi hukum yang saling bertentangan, mnyangkut sirik, yakni hukum adat Makassar menginginkan mengambil tindakan balasan terhadap orang-orang yang merendahkan martabatnya dalam arti kata bisa main hakim sendiri, sedang hukum positif (KUHP) melarang sama sekali melakukan tindakan main hakim sendiri. Suatu prinsip bagi suku Makassar, kalau harga dirinya direndahkan, akan melakukan tindakan balasan, Dalam ungkapan orang Makassar “Teai Mangkasarak punna bokona lokok (bukan orang Makassar kalau bahagian belakangnya luka) maksudnya kalua luka itu berada di bagian belakang berarti orang itu takut berhadapan dengan lawannya, sebaliknya kalau luka itu ada di bagian depan menandakan keberaniannya.

Minggu, 25 Desember 2011

TEAI MANGKASARA PUNNA BOKONA LOKO'

Posted by KERAJAAN MAKASSAR 03.48, under | No comments


Ini merupakan sifat ksatria yang dimilki oleh orang Makassar terungkap dalam ungkapan :

" Teai Mangkasara punna bokona loko "
   Artinya :
" Bukan orang Makassar kalau yang luka itu adalah bagian belakangnya "

Sebagai orang Makassar, bila sudah melakukan duel maut mereka pantang dan haram lari sebab bila mereka lari berarti penakut dan bisa dicap sebagai bencong atau orang ballorang (penakut). 

Kalaupun lari, akan tergambar dari pihak lawannya, pihak lawan akan memberinya hadiah dengan menancap Badik di belakangnya, yang berarti luka ada di bagian belakang dan bila luka ada di bagian belakang berarti mereka bukan orang Makassar.

Namun bilamana lukanya ada di depan, menandakan mereka adalah seorang ksatria, pemberani. Kalaupun mati, itu namanya mati terhormat. Orang Makassar bilang Mate Nigollai atau Mate Nisantanggi ( Mati diberi gula atau diberi santan ).

KERAJAAN GOWA PADA MASA SULTAN HASANUDDIN

Posted by KERAJAAN MAKASSAR 02.50, under | No comments


Sejak Sultan Hasanuddin naik tahta pada bulan November 1653, Sultan dihadapkan pada pergolakan. Pertempuran prajurit Kerajaan Gowa melawan Belanda di Buton terus berkobar, pertempuran ini dipimpin langsung oleh Sultan Hasanuddin. Dalam serangan itu, benteng pertahanan Belanda di Buton berhasil direbut serta menawan sebanyak 35 orang Belanda.

Satu tahun lamanya, Sultan Hasanuddin mengendalikan pemerintahan, Mangkubumi Kerajaan Gowa Karaeng Pattingalloang wafat pada 15 september 1645. Beliau kemudian digantikan oleh putranya bernama Karaeng Karunrung. 

Belanda melihat, perang dengan Kerajaan Gowa telah banyak menelan biaya, demikian halnya di sektor perdagangan telah banyak mengalami kerugian. Belanda kemudian membuat siasat ingin damai. Pada tanggal 23 Oktober 1655 Belanda mengutus Willem Van den Berg dan seorang berkebangsaan Armenia bernama Choja Sulaeman untuk menghadap Sultan dan menyampaikan pesan Jenderal Maestsuyker. Perundingan itu berlangsung 28 Desember 1655 dimana tuntutan Belanda:
  • Orang-orang Makassar yang ada di Maluku boleh kembali ke  negerinya. 
  • Raja Gowa boleh menagih utang piutangnya di Ambon. 
  • Orang-orang tawanan dari kedua belah pihak harus diserahkan pada   pihak masing-masing. 
  • Musuh-musuh dari Belanda tidak akan menjadi musuh dari Kerajaan  Gowa. 
  • Belanda tidak akan mencampuri perselisihan diantara orang-orang Makassar. 
  • Belanda boleh menangkap semua orang Makassar yang didapati  berlayar di Perairan Maluku.
Tuntutan Belanda itu dinilai oleh Sultan sangat merugikan Gowa, karenanya ditolak. Sultan malah menantang perang, ia didukung oleh Mangkubuminya karaeng Karunrung, Karaeng Galesong, serta Karaeng Bontomarannu untuk unjuk kekuatan. Dari tantangan itu, Belanda juga meningkatkan kekuatannya sebuah armada bantuan dari Batavia yang dipimpin oleh Mr. Johan Van Dam. Untuk mengelabui prajurit Gowa, semua armada langsung ke Ambon sebagai upaya untuk memancing amarah Prajurit Gowa. Setelah itu barulah mereka menyerbu Somba Opu

Bulan Juni 1666 terjadilah pertempuran hebat di perairan Somba Opu. Belanda mengirim sebanyak 22 kapal perang dengan kekuatan 1604 serdadu ditambah dengan 700 serdadu pembantu dari Jawa dan Madura, Ambon dan lainnya.

Ketika melakukan serangan ke benteng panakkukang, Belanda pura-pura menuju ke utara seolah-olah hendak menyerang benteng Somba Opu tempat kediaman Sultan. Serangan besar-besaran yang telah dilancarkan oleh Belanda itu, akhirnya pada 12 Juni 1668 Belanda berhasil merebut Benteng Panakkukang. Prajurit Kerajaan Gowa tidak tinggal diam, dipimpin langsung oleh Karaeng Galesong dan Karaeng Bontomarannu terus melakukan perlawanan. Pertempuran yang berlangsung selama 2 hari telah banyak menelan korban. Akhirnya kedua belah pihak sepakat melakukan gencatan senjata.

Setelah gencatan senjata, kedua belah pihak masing-masing menyusun strategi dan memperkuat armadanya, nafsu Belanda untuk menguasai Gowa maka di utuslah Speelman dari Batavia pada 24 November 1666 menuju Benteng Somba Opu. Mereka diperkuat dengan 21 kapal perang dan 600 tentara, didukung sekitar 400 pasukan pimpinan Arung Palakka dan Kapten Jongker dari Ambon.

Armada Belanda tiba di Somba Opu pada tanggal 15 Desember 1666 dan keadaan Gowa semakin tegang, para pedagang pun menghentikan kegiatannya. Ketika utusan Speelman menghadap Sultan untuk menyampaikan tuntutan agar Sultan menyerah saja dan bersedia membayar ganti rugi ke pihak Belanda akibat perang terdahulu, ternyata tuntutan Spellman itu hanya taktik belaka untuk memulai peperangan.

Tapi Sultan Hasanuddin dengan berani menjawab : Bila kami diserang, maka kami mempertahankan diri dan kami menyerang kembali dengan segenap kemampuan yang ada. Kami di pihak yang benar. Kami ingin mempertahankan kebenaran dan kemerdekaan kami. Pagi itu, sekitar Tgl 21 Desember 1666, Speelman mengibarkan bendera merah pertanda perang siap dimulai, dentuman meriam pun mulai menghantam benteng satu persatu, dan kemudian dibalas oleh prajurit Kerajaan Gowa. Semangat juang dari prajurit Gowa semakin berkobar, Armada perahu kecil yang disebut armada semut sekali-kali melakukan penyerangan terhadap kapal Belanda. Perlawanan yang gigih dari prajurit Gowa telah mampu memukul basis pertahanan Belanda.

Bulan Juni 1667 Speelman bersama Sultan Mandarsyah yang membawa pasukan Ternate Bacan dan Tidore bergabung dengan pasukan Arung Palakka dan kapten Jongker. Dengan kekuatan dari Belanda itu, akhirnya pada tanggal 7 Juli 1667 setelah sekitar 7000 pasukan Kerajaan Gowa melakukan serangan mendadak terhadap pasukan Belanda dan sekutunya. Empat hari kemudian, Belanda baru berhasil memasuki Perairan Kerajaan Gowa, tanggal 19 Juli perairan Makassar sudah dipenuhi kapal-kapal Belanda dan Benteng Somba Opu di kepung.

Ketika Benteng Somba Opu di kepung, Sultan Hasanuddin dan Raja Tallo Sultan harun Al Rasyid yang langsung memimpin perlawanan itu. Beliau berada di barisan terdepan memimpin pasukan, disusul beberapa pasukan Tubarani seperti Karaeng Galesong, I Fatimah Daeng Takontu serta pembesar kerajaan lainnya. Para panglima perang di tebar di beberapa benteng pertahanan, pada tanggal 17 Agustus 1667 pagi, benteng Galesong diserang dengan meriam Belanda. Ketika lumpuh, Belanda lalu membakar gudang beras di Galesong dan Barombong. Perlawan yang digencarkan para Tubarani dengan membalas dentuman Anak Mariam Mangkasara membuat Belanda kocar-kacir, demikian halnya pasukan Arung Palakka berhasil dipukur mundur.

Atas serangan balasan itu, Speelman memperkuat pasukannya. 5 armada kapal perang didatangkan dari Batavia yang dipimpin komandan Kapten P. Dupon. Dari kekuatan itu Belanda lalu menyerang Benteng Barombong.

Tanggal 5 November 1667 Speelman melapor ke Batavia bahwa pasukannya sudah payah, semangat tempur merosot, 182 orang serdadu dan 95 matros jatuh sakit, Pasukan Buton, Ternate, dan Bugis banyak diserang sakit perut, belum lagi yang mati di medan perang, Speelman minta lagi dikirim pasukan baru. Atas bantuan pasukan baru itu, anak benteng pertahanan satu demi satu direbut Belanda. Sultan Hasanuddin pun merasa sedih, karena yang dihadapi tak hanya musuh, tetapi juga dari sesama bangsa sendiri, yakni dari Bugis, Ternate, dan Buton.

Dalam kondisi demikian, datang perutusan Speelman agar Sultan bersedia berunding dan perangpun harus dihentikan. Atas pertimbangan yang arif dan bijaksana dari Sultan, akhirnya kedua belah pihak melakukan perundingan di Bungaya dekat Barombong, setelah beberapa hari dilakukan perundingan, akhirnya pada hari Jum’at 18 November 1667 tercapailah suatu kesepakatan yang ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Bungaya atau lazim disebut Capaya ri Bungaya.

Atas penandatanganan Perjanjian Bungaya itu, banyak pembesar Gowa tak setuju, seperti Karaeng Galesong, Karaeng Bontomarannu, Karaeng Karunrung, I Fatimah Daeng Takontu, juga raja dari negeri sekutu Gowa seperti dari Wajo, Mandar, dan Luwu. Mereka siap angkat senjata dan meneruskan perlawanan kapan dan dimana saja. Tanggal 5 Agustus 1668 Karaeng Karunrung menyerang Benteng Ujung Pandang tempat Speelman bermarkas, dalam serangan itu Arung Palakka nyaris tewas.

Menurut catatan Speelman, dalam pertempuran melawan Gowa, banyak orang Belanda yang mati dan terluka. Setiap hari 7-8 orang belanda dikuburkan. Speelman jatuh sakit, 5 dokter dan 15 pandai besi meninggal. Tenaga bantuan dari Batavia hanya 8 orang yang sehat, dalam 4 minggu sebanyak 138 serdadu yang mati di Benteng Ujungpandang, dan 52 orang mati di atas kapal.

Tanggal 24 Juni 1669 Benteng Somba Opu dikuasai oleh Belanda, Belanda meyita sebanyak 272 pucuk meriam termasuk Meriam Anak Mangkasara yang disita Speelman. Benteng Somba Opu kemudian di bumi hanguskan dengan ribuan kilo amunisi dan berhasil menjebol dinding benteng setebal 12 kaki. Ledakan itu membuat udara diatas benteng memerah dan tanah seperti gempa. Mayat bergelimpangan dimana-mana. Semua istana yang ada di benteng dibumihanguskan akhirnya Benteng Somba Opu jatuh terhormat ke tangan Belanda.

Para pembesar kerajaan yang tak setuju atas Perjanjian Bungaya tak mau kalah, selamjutnya bertekad untuk melanjutkan perjuangan di Tanah Jawa dalam membantu perjuangan Raja Banten Sultan Ageng Tirtajasa dan Raja Mataram Raden Trunujoyo.

SEJARAH KELAHIRAN MAKASSAR

Posted by KERAJAAN MAKASSAR 00.16, under | No comments

    
    Sampai pada abad X, sejarah negeri Makassar masih gelap dan sangat kurang tanda-tanda yang dapat memberikan harapan akan tersingkapnya masa gelap abad-abad lalu itu, Gowa ataupun makassar belum di temukan jejak-jejaknya pada abad XI dan bahkan sampai abad XII. Barulah kemudian, sebuah buku dari peradaban di Pulau Jawa, Negarakretagama yang di tulis prapanca pada masa Gadjah Mada (1364), di temukan perkataan Makassar. Dalam buku itu disebutkan, bahwa daerah taklukan kerajaan Majapahit juga meliputi Makassar.
   Beberapa petikan kalimat yang menyebut tentang negeri-negeri di Sulawesi Selatan yang menjadi daerah taklukan Kerajaan Majapahit sebagai berikut :

Muah tanah i Bantayan pramuka Bantayan len Luwuk Tentang Udamakatrayadhi nikanang sanusaspupul Ikangsakasanusa Makassar Butun Banggawi Kuni Craliyao Nwangi Selaya Sumba Soto Muar, dsb

Maksudnya :

Seluruh Sulawesi Selatan menjadi daerah keempat kerajaan Majapahit yaitu : Bantayan (Bantaeng), Luwuk (Luwu), Udamakatraya (Talaud), Makassar (Makassar) Butun (Buton), Banggawi (Banggai), Kunir (Pulau Kunyit), Selaya (Selayar), Solot (Solor), dan seterusnya.

    Apakah yang dimaksud Makassar dalam Negarakertagama itu adalah sebuah negeri, seperti yang di pahami dengan tempat, yang di sebut kota makassar sekarang? tidak di temukan penjelasan lebih lanjut. Tetapi bila di maksud Makassar sebagai sebuah negeri adalah jelas, seperti halnya Bantayan (Bantaeng), Butun (Buton) dan sebagainya, niscaya letaknya di Sulawesi Selatan.
    Tahun 1479, runtuhnya negara Majapahit sebagai organisasi politik yang meliputi Tanah Air Indonesia berarti lumpuh dan lajunya peradaban kehidupan pada permulaan abad XVI. Dengan segera peradaban Indonesia dalam zaman peralihan ini di susun kembali oleh bangsa Indonesia dengan menurutkan pengaruh baru yang berpusat rohani kepada agama Islam dan kristen yang mulai berkembang abad XVI, maka peruntuhan Majapahit dalam waktu yang lamanya kira-kira tiga perempat abad, dapatlah disusun kembali di sekeliling Mataram di Jawa Tengah.
   Pertentangan menghadapi kekuasaan penjajahan Spanyol, Portugis, dan Belanda menjalankan tekanan dan tusukan yang barulah berakhir setelah pergerakan kemerdekaan Nasional mendapat kemenangan pada hari Proklamasi 1945. Dengan segera peradaban Indonesia dalam zaman peralihan ini (permulaan abad XVI), disusun kembali oleh bangsa Indonesia dengan mengikuti pengaruh baru yang berpusat rohani kepada Islam dan Kristen menunjukkan dengan jelas bahwa Makassar dengan pasti ikut serta dalam penyusunan nasional di bagian Nusantara, dengan menerima serta menghayati pengaruh baru itu, yang berpusat rohani pada ajaran Islam.
    Adapun tonggak peristiwa yang terpenting bagi kota Makassar dalam menyatakan diri pada pengikutsertaan itu ialah 9 November 1607.  Dipandang dari sudut hasrat orang Makassar untuk menyatakan dan menghormati peristiwa penting itu, dapat di jumpai pada ungkapan-ungkapan mereka terhadap peristiwa tersebut dengan hanya menyebut :

      Nanikana Mangkasara’, Ka-Nabbija Mangkasara’ Anrini !
      Maka disebut Makassar, karena di sinilah Nabi, menyatakan diri.

   Kalimat tersebut menyatakan suatu realita penjelmaan ajaran Muhammad Rasulullah di negeri ini. Di makassar-lah realita itu dimulai. Kegemaran orang Makassar dalam mengunakan ungkapan-ungkapan dalam bahasanya, sudah banyak di ketahui dan sampai hari ini pun kegemaran itu masih terpelihara. Bahwa demikian mendalamnya tertanam dalam kalbu orang Makassar hubungan kota Mangkasara’-nya ajaran Nabi Muhammad dalam realita kehidupan mereka, sehingga mereka pun memertalikannya dengan kebesaran dan kedalaman ilmu yang dimiliki oleh Syech Yusuf, mereka katakan :

     Umbarang nia inja Nabbi Ribokoanna Nabbi Muhamma’
     Tuanta Salama ka mintu nabbi Ribokoanna.
     Andai kata masih ada Nabi sesudah Nabi Muhammad
     Maka tuwanta Salamaka Syech Yusuf nabi sesudahnya.

    Bilamana kota Makassar hendak menemukan dirinya dalam semangat nasional, dan menempatkan dirinya dalam mata rantai atau kerangka bangunan babakan waktu sejarah yang mempunyai akarnya pada semangat nasional, maka 9 November 1607 itulah yang patut di tetapkannya sebagai hari kehadirannya. Dalam rangka semangat Makassar 9 November 1607, dengan segala rasa kagum dapat memerhatikan betapa sebuah ibu kota menjadi pusat kecintaan rakyat seluruh wilayah kerajaan.
    Betapa banyak dicatat dalam lontara’ dan arsip-arsip Belanda, bahwa hampir semua peristiwa yang menyangkut hubungan negeri ini keluar, kota Makassar-lah yang di depankan namanya. Tempat baginda raja-raja Gowa bersemayam dalam kasteel Somba Opu di Kota Makassar.
    Ujungpandang atau Jumpandang, adalah salah satu bagian kecil dari bandar Makassar dalam semangat 9 November 1607. Barulah setelah perjanjian Bongaya (18 November 1667), ketika Belanda menduduki Benteng Ujung Pandang dan mengganti namanya menjadi Vlaardingen, semuanya itu untuk memeringati jasa Speelman, maka di sekitar tempat-tempat itulah menjadi pusat kegiatan dan keramaian. Bagian inilah bersama daerah-daerah perkampungan sekitarnya yang di sebut Bontoala dan Kanrobosi, menjadi peserta yang terpenting dalam pembangunan baru yang di selenggarakan oleh Belanda
    Semua bagian yang ramai itu, yang berpusat pada kota Vlaardingen, karena sukarnya disebut lidah Makassar, maka kabarnya ada yang menyebutnya Palandingang, tetapi sebagaian besarnya menyebut Ujung Pandang saja. Orang-orang Bugis dari pedalaman terutama orang Bone yang mengikuti kebesaran Bone berpindah ke Bontoala, menyebut bagian kota Makassar yang di duduki Belanda dan Arung Palakka, Juppandang/Jumpandang, yang menjadi pusat kegiatan politik ekonomi berada di bawah pengaruh dan kekuasaan Belanda.
     Karena Jumpandang menjadi pusat kekuasaan Belanda di negeri ini yang sudah di rubah namanya menjadi Fort Rotterdam dan Vlaardingen, maka Jumpandang-lah dalam waktu singkat berikutnya menjadi sebutan umum masyarakat yang meliputi wilayah bekas ibu kota kerajaan kembar (Gowa-Tallo) dikurangi daerah-daerah bekas Benteng Somba Opu, Mangallekana, dan Panakkukang yang telah menjadi kampung-kampung sepi dan mati.
    Ketika Belanda dapat menstabilisir keadaan di kota ini dan tersusunnya organisasi kekuasaan Hindia-Belanda, maka pada 1 April 1906, Makassar dalam isi seperti itu dijadikan gemeente dalam struktur organisasi kekuasaan Hindi-Belanda. Dalam semangat kolonial, kota makassar di sempitkan ke pengertian Ujung Pandang dan kampung-kampung sekitarnya, agar terhapus kenangan kepada Makassar dalam arti yang sesungguhnya.
   Tetapi dalam semangat Nasional, yang bertitik tumpu pada tonggak peristiwa 9 November 1607, Makassar adalah Bandar niaga Makassar, yang berwilayah dari Panakkukang di Selatan sampai Mangara’bombang di ujung Timur Tallo dan Somba Opu menjadi titik sentralnya. Dalam semangat itu, kita bertolak dari Makassar ke Makassar dalam arti sesungguhnya.  
    Kerajaan Gowa adalah kerajaan terbesar dan terkuat di kawasan Indonesia timur. Kerajaan yang didiami oleh etnis suku mangkasara’ yang berjiwa penakluk namun demokratis dalam memerintah gemar berperang dan jaya di laut. Tak heran pada abad ke-14-17, dengan simbol Kerajaan Gowa, mereka berhasil membentuk satu wilayah kerajaan yang luas dengan kekuatan armada laut yang besar berhasil membentuk suatu Imperium bernafaskan ISLAM, mulai dari keseluruhan pulau Sulawesi, kalimantan bagian Timur, NTT, NTB, Maluku, Brunei, Papua dan Australia bagian utara. Mereka menjalin Traktat dengan Bali, kerjasama dengan Malaka dan Banten dan seluruh kerajaan lainnya dalam lingkup Nusantara maupun Internasional (khususnya Portugis). Kerajaan ini juga menghadapi perang yang dahsyat dengan Belanda hingga kejatuhannya akibat adu domba Belanda terhadap kerajaan taklukannya.
    Berbicara tentang Makassar maka adalah identik pula dengan suku Bugis yang serumpun. Istilah Bugis dan Makassar adalah istilah yang diciptakan oleh Belanda untuk memecah belah. Hingga pada akhirnya kejatuhan Kerajaan Makassar pada Belanda, segala potensi dimatikan, mengingat suku ini terkenal sangat keras menentang Belanda. Di mana pun mereka bertemu Belanda, pasti diperanginya. Beberapa tokoh sentral Gowa yang menolak menyerah seperti Karaeng Galesong, hijrah ke Tanah Jawa. Bersama armada lautnya yang perkasa, memerangi setiap kapal Belanda yang mereka temui. Oleh karena itu, Belanda yang saat itu dibawah pimpinan Spellman menjulukinya dengan "Si-Bajak-Laut".